Tuesday, 16 May 2017

Makalah Paragraf

TUGAS MAKALAH BAHASA INDONESIA
PARAGRAF


DOSEN PENGAMPU :
Siti Ansoriah, S.Pd
DISUSUN OLEH :

Rizka Dwie Suci Wulandari/3315160775/Pendidikan Kimia




UNIVERSITAS NEGERI JAKARTA
JAKARTA
2017



KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan kehadirat Allah S.W.T, atas segala kemampuan rahmat dan hidayah-nya sehingga penulis dapat menyelesaikan Tugas Makalah yang berjudul “ PARAGRAF “ pada mata kuliah Bahasa Indonesia. Dengan mengucap puji syukur kehadirat Allah SWT atas segala rahmat dan karunia-Nya, serta tak lupa sholawat dan salam kepada junjungan Nabi besar Muhammad SAW  atas petunjuk dan risalahNya, yang telah membawa zaman kegelaapan ke zaman terang benderang, dan atas doa restu dan dorongan dari berbagai pihak-pihak yang telah membantu kami memberikan referensi dalam pembuatan makalah ini.
Terima kasih kepada Ibu Siti selaku dosen pengampu yang telah memberikan tugas membuat makalah kepada kami semua. Terima kasih  juga kepada teman-teman yang telah banyak membantu baik dengan tenaga maupun fikiran sehingga makalah ini dapat tersusun dengan cepat.
Semoga makalah ini dapat bermanfaat dan memberikan wawasan yang lebih luas. Kami sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Oleh karena itu kami sangat menghargai akan saran dan kritik untuk membangun makalah ini lebih baik lagi. Demikian yang dapat kami sampaikan, semoga melalui makalah ini dapat memberikan manfaat bagi kita semua.







Jakarta, Maret 2017


(Penulis, dkk)
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR..........................................................................................................       i
DAFTAR ISI.........................................................................................................................      ii
BAB I PENDAHULUAN.....................................................................................................      1
A.    Latar Belakang.....................................................................................................      1
B.     Rumusan Masalah................................................................................................      1
C.     Tujuan..................................................................................................................      1
D.    Manfaat................................................................................................................      1
BAB II PEMBAHASAN.....................................................................................................      2
A.    Pengertian Paragraf.............................................................................................      2
1.      Ciri paragraf...................................................................................................      2
2.      Fungsi paragraf..............................................................................................      3
B.     Syarat Paragraf....................................................................................................      3
1.      Kesatuan paragraf..........................................................................................      3
2.      Kepaduan Paragraf........................................................................................      3
3.      Kelengkapan Paragraf...................................................................................      3
C.     Struktur Paragraf.................................................................................................      3
D.    Jenis-jenis Paragraf..............................................................................................      4
E.     Unsur-unsur Paragaraf.........................................................................................      9
F.      Pengembangan Paragraf......................................................................................    10
1.      Pengembangan paragaraf dengan penggunaan ungkapan.............................    10
2.      Pengembangan paragaraf menurut teknik pemaparan...................................    11
BAB III PENUTUP.............................................................................................................    12
A.    Kesimpulan..........................................................................................................    12
B.     Saran....................................................................................................................    12
DAFTAR PUSTAKA..........................................................................................................    13


BAB I
PENDAHULUAN
A.          Latar Belakang
Umumnya kesulitan pertama membuat karya tulis ilmiah adalah mengungkapkan pikiran menjadi kalimat dalam bahasa ilmiah. Sering dilupakan perbedaan antara paragraf dan kalimat. Suatu kalimat dalam tulisan tidak berdiri sendiri, melainkan kait-mengait dalam kalimat lain yang membentuk paragraf, paragraf merupakan sebuah karangan yang membangun satuan pikiran sebagai pesan yang disampaikan oleh penulis dalam karangan.
Paragraf adalah bagian dalam suatu karangan yang mengandung satu gagasan pokok atau pikiran utama dan beberapa gagasan penjelas. Paragraf dapat pula diartikan sebagai suatu kesatuan pikiran yang lebih tinggi atau lebih luas dari kalimat. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraf, yang perlu diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan. Kesatuan berarti seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan (gagasan tunggal). Kepaduan berarti seluruh kalimat dalam paragraf itu kompak, saling berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf.
Dalam kenyataannya kadang-kadang kita menemukan alinea yang hanya terdiri atas satu kalimat, dan hal itu memang dimungkinkan. Namun, dalam pembahasan ini wujud alinea semacam itu dianggap sebagai pengecualian karena disamping bentuknya yang kurang ideal jika ditinjau dari segi komposisi, alinea semacam itu jarang dipakai dalam tulisan ilmiah. Paragraf diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari sudut pandang komposisi, pembicaraan tentang paragraf sebenarnya ssudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab formal yang sederhana boeh saja hanya terdiri dari satu paragraf. Jadi, tanpa kemampuan menyusun paragraf, tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.
B.           Rumusan Masalah
1.      Apakah pengertian paragraf?
2.      Bagaimana struktur sebuah paragraf?
3.      Bagaimana syarat-syarat dalam pembuatan paragraf?
4.      Apa saja jenis-jenis paragraf?
5.      Bagaimana cara mengembangkan sebuah paragraf?
C.          Tujuan
1.      Mengetahui pengertian paragraf.
2.      Mengetahui bagaimana struktur paragarf.
3.      Mengetahui apa saja syarat-syarat membuat paragraf.
4.      Mengetahui jenis-jenis paragraf.
5.      Mengetahui cara mengembangkan paragraf.
D.          Manfaat
Agar kita dapat mengetahui lebih dalam apa itu paragraf, struktur paragraf, syarat-syarat membuat paragraf, cara mengembangkan paragraf dan jenis-jenis paragraf.


BAB II
PEMBAHASAN

A.       Pengertian Paragraf
Apa itu paragraf? Banyak definisi tentang paragraf yang dikemukakan oleh para ahli bahasa. Widjono (2012 : 222) menjelaskan bahwa paragraph merupakan satuan bahasa tulis yang terdiri dari beberapa kalimat yang tersusun secara terpadu,runtut,logis, dan merupakan kesatuan ide yang tersusun secara lengkap, dan berstruktur. Struktur dalam konteks ini berupa struktur paragraph, meliputi kalimat topik, kalimat pendukung 1, kalimat pendukung 2, kalimat pendukung 3, dan kalimat konklusi. Dalam paragraf, susunan kalimat terdiri dari satuan informasi yang didalamnya terdapat pikiran utama sebagai topik dan pikiran penjelas sebagai pendukung dan pengendali pengembangan topik, dan diakhiri dnegan kalimat konklusi atau kalimat penegas.
Jadi, Paragraf atau alinea adalah suatu bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraf, yang perlu diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan. Kesatuan berarti seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan (gagasan tunggal). Kepaduan berarti seluruh kalimat dalam paragraf itu kompak, saling berkaitan mendukung gagasan tunggal paragraf.
Kalimat-kalimat dalam paragraf memperlihatkan kesatuan pikiran atau mempunyai ketertarikan dalam membentuk gagasan atau topik tersebut, Sebuah paragraf biasanya terdiri dari kumpulan kalimat yang berisi kalimat topik atau kalimat utama dan kalimat penjelas. Bagaimana dengan paragraf yang hanya terdiri dari satu kalimat? Apakah bisa disebut juga sebagai paragraf?
Paragraf yang terdiri atas satu kalimat berarti tidak menunjukan ketuntasan atau kesempurnaan. Sebagai kesatuan gagasan suatu bentuk ide yang utuh dan lengkap, paragraf hendaknya dibangun dengan sekelompok kalimat yang saling terkait. Namun, sekalipun tidak sempurna, paragraf yang terdiri atas satu kalimat ini dapat berfungsi sebagai peralihan antarparagraf. Jadi, sebuah paragraf dapat terdiri dari sebuah kalimat, dua buah kalimat, atau lebih dari dua buah kalimat. Paragraf yang berisi dari banyak kalimat, seluruh kalimatnya merujuk pada satu gagasan yang sama atau masih berkaitan dengan gagasan utama.
1.      Ciri Paragraf
Widjono (2012: 222) dalam hal ini memberikan beberapa ciri paragraph, diantaranya:
a.       Kalimat pertama bertakuk ke dalam lima ketukan spasi untuk jenis karangan biasa, misalnya surat, dan delapan ketukan untuk jenis karangan ilmiah formal, misalnya makalah, skripsi, tesis dan disertasi. Karangan yang berbentuk lurus dan tidak bertakuk (Block Style) ditandai dengan jarak spasi merenggang, satu spasi lebih banyak daripada jarak antarbaris lainnya.
b.      Paragraf menggunakan pikiran utama (gagasan utama) yang dinyatakan dalam kalimat topik. Kalimat topik dapat ditempatkan pada posisi awal, tengah, dan akhir.
c.       Paragraf hanya berisi satu kalimat topik. Kalimat topik yang terdapat pada posisi awal dan akhir itu berisi gagasan yang sama. Kalimat topik pada akhir paragraf menegaskan gagasan kalimat topik pada posisi awal. Paragraf dengan dua kalimat topik itu dilakukan pada paragraf dengan jumlah kalimat banyak, missal 6 s.d. 10 buah kalimat.
2.      Fungsi Paragraf
Dalam sebuah bahasa tulis yang utuh, paragraf juga memiliki fungsi, yakni:
a.       Untuk menandai pembukaan atau gagasan baru;
b.      Mengekspresikan gagasan tertulis ke dalam serangkaian kalimat yang terssusun secara logis dan  terstruktur;
c.       Menandai peralihan gagasan baru;
d.      Sebagai pengembang lebih lanjut tentang ide sebelumnya;
e.       Sebagai penegasan terhadap gagasan yang diungkapkan terlebih dahulu.

B.        Syarat Paragraf
Paragraf yang efektif harus memenuhi dua syarat ,yaitu adanya kesatuan dan kepaduan.
1.      Kesatuan Paragraf
Sebuah paragraf dikatakan mempunyai kesatuan jika seluruh kalimat dalam paragraf hanya membicarakan satu ide pokok ,satu topik / masalah. Jika dalam sebuah paragraf terdapat kalimat yang menyimpang dari masalah yang sedang di bicarakan, berarti dalam paragraf itu terdapat lebih dari satu ide atau masalah.
2.      Kepaduan Paragraf
Untuk dapat mencapai kepaduan, langkah-langkah yang harus ditempuh adalah kemapuan merangkai kalimat sehingga bertalian secara logis dan padu. Bagaimana agar kalimat-kalimat dapat bertahan secara logis dan padu? Gunakan kata penghubung.
Terdapat dua jenis kata penghubung, yaitu kata penghubung intrakalimat dan kata penghubung antarkalimat. Kata penghubung intrakalimat adalah kata yang menghubungkan anak kalimat dengan induk kalimat, sedangkan kata penghubung antarkalimat adalah kata yang menghubungkan kalimat yang satu dengan kalimat lainnya ( Ninik,2009: 154).
3.      Kelengkapan Paragraf
Kelengkapan ditandai dengan ketuntasan informasi yang diperoleh pembaca setelah selesai membaca sebuah paragraf. Informasi yang disampaikan tidak menggantung.
Sebuah paragraf dikatakan lengkap apabila di dalamnya terdapat kalimat-kalimat penjelas secara lengkap untuk menunjuk pokok pikiran atau kalimat topik. Ciri-ciri kalimat penjelas, yakni berisi penjelasan berupa rincian, keterangan, contoh, dan lain-lain. Kalimat penjelas juga sering memerlukan bantuan kata penghubung.

C.       Struktur Paragraf
Paragraf terdiri atas kalimat topik atau kalimat pokok dan kalimat penjelas atau kalimat pendukung. Kalimat topik merupakan kalimat terpenting yang berisi ide pokok alinea. Sedangkan kalimat penjelas atau kalimat pendukung berfungsi untuk menjelaskan atau mendukung ide utama. 
a.       Ciri kalimat topik :
1.      Mengandung permasalahan yang potensial untuk diuraikan lebih lanjut
2.      Mengandung kalimat lengkap yang dapat berdiri sendiri
3.      Mempunyai arti yang jelas tanpa dihubungkan dengan kalimat lain
4.      Dapat dibentuk tanpa kata sambung atau transisi
b.      Ciri kalimat pendukung :
1.      Sering merupakan kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri
2.      Arti kalimatnya baru jelas setelah dihubungkan dengan kalimat lain dalam satu alinea
3.      Pembentukannya sering memerlukan bantuan kata sambung atau frasa penghubung atau kalimat transisi
4.      Isinya berupa rincian, keterangan, contoh, dan data lain yang bersifat mendukung kalimat topik
Untuk mendapatkan paragraf yang baik perlu diperhatikan hal-hal berikut :
1.      Posisi Paragraf
Sebuah karangan dibangun oleh beberapa bab. Bab-bab suatu karangan yang mengandung kebulatan ide dibangun oleh beberapa anak bab. Anak bab dibangun oleh beberapa paragraf. Jadi, kedudukan paragraf dalam karangan adalah sebagai unsur pembangun anak bab, atau secara tidak langsung sebagai pembangun karangan itu sendiri. Dapat dikatakan bahwa paragraf merupakan satuan terkecil karangan, sebab di bawah paragraf tidak lagi satuan yang lebih kecil yang mampu mengungkapkan gagasan secara utuh dan lengkap.
2.       Struktur Paragraf
Mendapatkan banyaknya unsur dan urutan unsur yang pembangun paragraf, struktur paragraf dapat dikelompokkan menjadi delapan kemungkinan, yaitu :
1.      Paragraf terdiri atas transisi kalimat, kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat penegas.
2.      Paragraf terdiri atas transisi berupa kata, kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat penegas.
3.      Paragraf terdiri atas kalimat topik, kalimat pengembang, dan kalimat penegas.
4.      Paragraf terdiri atas transisi berupa kata, kalimat topik, dan kalimat pengembang.
5.      Paragraf terdiri atas transisi berupa kalimat, kalimat topik, kalimat pengembang.
6.      Paragraf terdiri atas kalimat topik dan katimat pengembang.
7.      Paragraf terdiri atas kalimat pengembang dan katimat topik. 

D.       Jenis-Jenis Paragraf
Paragraf memiliki banyak ragamnya. Untuk membedakan paragraf yang satu dari paragraf yang lain berdasarkan kelompoknya,yaitu : jenis paragraf menurut posisi kalimat topiknya, menurut sifat isinya, menurut fungsinya dalam karangan.
1.   Jenis paragraf menurut posisi kalimat topiknya
Kalimat yang berisi gagasan utama paragraf adalah kalimat topik. Karena berisi gagasan utama itulah keberadaan kalmat topic dan letak posisinya dalam paragraf menjadi penting. Posisi kalimat topik di dalam paragraf yang akan memberi warna sendiri bagisebuah paragraf. Berdasarkan posisi kalimat topik, paragraf dapa dibedakan atas empat macam, yaitu : paragraf deduktif, paragraf induktif, paragraf deduktif-induktif, paragraf penuh kalimat topik.
a.    Kalimat topik pada awal paragraf (Paragraf Deduktif)
Adalah paragraf yang letak kalimat pokoknya di tempat kan pada bagian awal paragraf ,yaitu paragraf yang menyajikan pokok permasalahan terlebih dahulu, lalu menyusul uraian yang terinci mengenai permasalahan atau gagasan paragraf (urutan umum-khusus).

Contoh paragraf deduktif :
"Influenza merupakan penyakit infeksi yang menyerang saluran pernapasan bagian atas. Infeksi tersebuut disebabkan oleh virus parainfluenza yang menyebar melalui udara dan cairan yang keluar dari hidung dan mulut penderita. Infeksi yang terjadi dalam tubuh akan menimbulkan gejala dalam waktu 48 jam. Umumnya gejala itu, antara lain, berupa demam, sakit kepala, nyeri otot, dan sakit tenggorok.
b.      Kalimat topik pada akhir paragraf (Paragraf Induktif)
Bila kalimat pokok ditempatkan pada akhir paragraf akan terbentuk paragraf induktif, yaitu paragraf yang menyajikan penjelasan terlebih dahulu,barulah diakhiri dengan pokok pembicaraan.
Contohnya:
"Pak Sopian memiliki kebun kakao seluas 1 hektar. Tetangganya, Pak Gatot, juga memiliki kebun kakao seluas 1 hektar. Adik Pak Gatot, Ali Bashya, malah memiliki kebun kakao yangt lebih luas daripada kakaknya, yaitu 2,5 hektar. Tahun ini merupakan tahun ketiga bagi mereka memanen kakao. Seperti mereka, dari 210 penduduk petani di Desa Sriwaylangsep, 175 kepala keluarga berkebun kakao. Maka, tidaklah heran apabila Desa Sriwaylangsep tersebut dikenal dengan Desa Kakao.

c.       Kalimat topik pada awal dan akhir paragraph (Paragraf Deduktif-Induktif)
Bila kalimat pokok di tempatkan pada bagian awal dan akhir paragraf, terbentuklah paragraf deduktif-induktif. Kalimat pada akhir paragraf umumnya menjelaskan atau menegaskan kembali gagasan utama yang terdapat pada awal paragraf.
" Pemerintah menyadari bahwa rakyat Indonesia memerlukan rumah yang kuat,murah, dan sehat. Pihak dari pekerjaan umum sudah lama menyelidiki bahan rumah yang murah, tetapi kuat. Tampaknya bahan perlit yang diperoleh dari batuan gunung beapi sangat menarik perhatian para ahli. Bahan ini tahan api dan air tanah. Usaha ini menunjukan bahwa pemerintah berusaha membangun rumah yang kuat, murah dan sehat untuk memenuhi kebutuhan rakyat."

d.      Paragraf penuh kalimat topik
Seluruh kalimat yang membangun paragraf sama pentingnya sehingga tidak satupun kalimat yang khusus menjadi kalimat topik. Kondisi seperti itu dapat atau biasa terjadi akibat sulitnya menentukan kalimat topic karena kalimat yang satu dan lainnya sama-sama penting. Paragraf semacam ini sering dijumpai dalam uraian-uraian bersifat dskriptif dan naratif terutama dalam karangan fiksi.
Contoh paragraf penuh kalimat topik :
"Pagi hari itu aku berolahraga di sekitar lingkungan rumah. Dengan udara yang sejuk dan menyegarkan. Di sekitar lingkungan rumah terdengar suara ayam berkokok yang menandakan pagi hari yang sangat indah. Kuhirup udara pagi yang segar sepuas-puasku."

e.       Kalimat topik pada pertengahan paragraf
Paragraf dengan kalimat topik berada di tengah, berarti  diawali denngan kalimat penjelas dan diakhiri pula dengan kalimat penjelas. Penalaran ini menggunakan pola penalaran induktif-deduktif.
Contohnya :
Apabila Anda berkunjung ke Kartasura, jangan lupa singgah di rumah makan Mbah semar. Di situ Anda akan menemukan hidangan garang asem yang rasanya “maut”. Garang asem rumah makan Mbah semar benar-benar menawarkan rasa yang sangat khas. Daging ayam kampong yang empuk terendam dalam kuah santan yang disisipi rasa pedas cabe rawit serta asam belimbing wuluh dan tomat hijau. Kuah itu terasa sangat gurih Karena sebelum dibungkus daun pisang dan dikukus, garang asemm disiram isi telur ayam. Kuah yang tercampur putih dan kuning telur menjadi kental dna terasa makin gurih.”

2.      Jenis Paragraf Menurut Isinya
Isi sebuah paragraf dapat bermacam-macam bergantung pada maksud penulisannya dan tuntutan korteks serta sifat informasi yang akan disampaikan.Penyelarasan sifat isi paragraf dengan isi karangan sebenarnya cukup beralasan karena pekerjaan menyusun paragraf adalah pekerjaan mengarang juga.
a.       Paragraf deskripsi
Paragraf deskripsi ditandai dengan kalimat utama yang tidak tercantum secara nyata dan tema paragraf tersirat dalam keseluruhan paragraf. Biasanya dipakai untuk melakukan sesuatu, hal, keadaan, situasi dalam cerita.
Contoh paragraf deskripsi :
Dari balik tirai hujan sore hari, pohon-pohon kelapa di seberang lembah itu seperti perawan mandi basah, segar penuh gairah dan daya hidup. Pelepah-pelepah yang kuyup adalah rambut basah yang tergerai dan jatuh di belahan punggung. Batang-batang yang ramping dan meliuk-liuk oleh hembusan angin seperti tubuh semampai yang melenggang tenang dan penuh pesona.
b.        Paragraf proses
Paragraf proses ditandai dengan tidak terdapatnya kalimat utama dan pikiran utamanya tersirat dalam kalimat-kalimat penjelas yang memaparkan urutan suatu kejadian atau proses, meliputi waktu, ruang, klimaks dan antiklimaks.
3.      Paragraf efektif
Paragraf efektif adalah paragraf yang memenuhi ciri paragraf yang baik. Paragrafnya terdiri atas satu pikiran utama dan lebuh dari satu pikiran penjelas. Tidak boleh ada kalimat sumbang, harus ada koherensi antar kalimat.
3.      Jenis Paragraf  Menurut Fungsinya dalam Karangan
Menurut fungsinya, paragraf dapat dibedakan menjadi 3 , yaitu:
a.       Paragraf Pembuka
Bertujuan mengutarakan suatu aspek pokok pembicaraan dalam karangan. Sebagai bagian awal sebuah karangan, paragraf pembuka harus di fungsikan untuk:
    menghantar pokok pembicaraan
    menarik minat pembaca
    menyiapkan atau menata pikiran untuk mengetahui isi seluruh karangan.

Setelah memiliki ke tiga fungsi tersebut di atas dapat dikatakan paragraf pembuka memegang peranan yang sangat penting dalam sebuah karangan. Paragraf pembuka harus disajikan dalam bentuk yang menarik untuk pembaca. Untuk itu bentuk berikut ini dapat dimanfaatkan sebagai bahan menulis paragraf pembuka,yaitu:
    Kutipan, peribahasa, anekdot
    Pentingnya pokok pembicaraan
    Pendapat atau pernyataan seseorang
    Uraian tentang pengalaman pribadi
    Uraian mengenai maksud dan tujuan penulisan
    Sebuah pertanyaan.

b.      Paragraf Pengembang
Bertujuan mengembangkan pokok pembicaraan suatu karangan yang sebelumnya telah dirumuskan dalam alinea pembuka. Paragraf ini didalam karangan dapat difungsikan untuk:
    Mengemukakan inti persoalan
    Memberikan ilustrasi
    Menjelaskan hal yang akan diuraikan pada paragraf berikutnya
    Meringkas paragraf sebelumnya
    Mempersiapkan dasar bagi simpulan.

c.       Paragraf Penutup
Paragraf ini berisi simpulan bagian karangan atau simpulan seluruh karangan. Paragraf ini sering merupakan pernyataan kembali maksud penulis agar lebih jelas. Mengingat paragraf penutup dimaksudkan untuk mengakhiri karangan. Penyajian harus memperhatikan hal sebagai berikut:
    sebagai bagian penutup,paragraf ini tidak boleh terlalu psnjsng
    isi paragraf harus berisi simpulan sementara atau simpulan akhir sebagai cerminan inti seluruh uraian
    sebagai bagian yang paling akhir dibaca, disarankan paragraf ini dapat menimbulkan kesan yang medalam bagi pembacanya.





E.        Unsur-Unsur Paragraf
Dalam pembuatan suatu paragraf harus memiliki unsur unsur pembangun paragraf agar paragraf atau alinea dapat berfungsi dengan sebagaimana mestinya.
1.      Topik atau tema atau gagasan utama atau gagasan pokok atau pokok pikiran, topik merupakan hal terpernting dalam pembuatan suatu alinea atau paragraf agar kepaduan kalimat dalam satu paragraf atau alinea dapat terjalin sehingga bahasan dalam paragraf tersebut tidak keluar dari pokok pikiran yang telah ditentukan sebelumnya.

2.      Kalimat utama atau pikiran utama, merupakan dasar dari pengembangan  suatu paragraf karena kalimat utama merupakan kalimat yang mengandung pikiran utama. Keberadaan kalimat utama itu bisa di awal paragraf, diakhir paragraf atau pun diawal dan akhir paragraf.

Berdasarkan penempatan inti gagasan atau ide pokoknya alinea dibagi menjadi beberapa jenis, yaitu:
·         Deduktif                     : kalimat utama diletakan di awal alinea
·         Induktif                       : kalimat utama diletakan di akhir anilea
·         Variatif                        : kalimat utama diletakan di awal dan diulang pada akhir alinea
·         Deskriptif/naratif        : kalimat utama tersebar di dalam seluruh alinea 

3.      Kalimat penjelas, merupakan kalimat yang berfungsi sebagai penjelas dari gagasan utama. Kalimat penjelas merupakan kalimat yang berisisi gagasan penjelas. 

4.      Judul (kepala karangan), untuk membuat suatu kepala karangan yang baik, ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, yaitu :
·         Provokatif (menarik)
·         Berbentuk frase
·         Relevan (sesuai dengan isi)
·         Logis
·         Spesifik

Keempat unsur ini tampil secara bersama-sama atau sebagian, oleh karena itu, suatu paragraf atau topik paragraf mengandung dua  unsur wajib (katimat topik dan kalimat pengembang), tiga unsur, dan mungkin empat unsur.











F.        Pengembangan Paragraf
Mengarang itu adalah usaha mengembangkan beberapa kalimat topik. Dengan demikian, dalam karangan itu kita harus mengembangkan beberapa paragraf demi paragraf. Pengembangan paragraf tentunya didasarkan pada gagasan utama dan pikiran utama. Agar gagasan sampai kepada pembaca, penulis memerlukan strategi menulis paragraf, yaitu cara dan upaya yang dapat memikat pembaca.
Pengembangan paragraf dapat dilakukan melalui dua cara, yakni dengan penggunaan ungkapan dan teknik pemaparan. Paragraf dapat dikembangkan dengan menggunakan ungkapan terbagi menjadi tujuh, yakni pertentangan, perbandingan, analogi, contoh, sebab akibat, definisi dan klasifikasi. Pengembanngan paragraf dengan teknik pemaparan terbagi menjadi lima, yaklni naratif, deskriptif, argumentatif, ekspositoris, dan persuasif.

1.      Pengembangan paragraf dengan penggunaan ungkapan
a)      Pengembangan paragraf dengan cara pertentangan biasanya menggunakan ungkapan-ungkapan, seperti berbeda dengan, bertentangan dengan, sedangkan, lain halnya dengan, akan tetapi, dan bertolak belakang dari.
b)      Perbandingan dapat menjadi salah satu cara mengembangkan paragraf. Ungkapan yang biasa digunakan, seperti serupa dengan, seperti halnya, demikian juga, ama dengan, sejalan dengan, akan tetapi, sedangkan, dan sementara itu.
c)      Mengembangkan paragraf dapat juga dengan cara analogi. Analogi merupakan bentuk pengungkapan suatu objek yang dijelaskan dengan objek lain yang memiliki kesamaan atau kemiripan. Biasanya pengembangan analogi dilakukan dengan bantuan kiasan. Kata-kata yang digunakan, yaitu ibaratnya, seperti, dan bagaikan.
d)      Kata seperti, misalnya, contohnya, dan lain-lain adalah ungkapan-ungkapan pengembangan dalam mengembangkan paragraf dengan contoh.
e)      Pengembangan paragraf dengan cara sebab akibat dilakukan jika menerangkan suatu kejadian, baik dari segi penyebab maupun segi akibat. Ungkapan yang digunakan, yaitu padahal, akibatnya, oleh karena itu, dan karena.
f)       Adalah, yaitu, ialah, merupakan kata-kata yang digunakan dalam mengembangkan paragraf dengan cara definisi. Kata adalah biasanya digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata benda. Yaitu digunakan jika sesuatu yang akan didefinisikan diawali dengan kata kerja atau sifat. Jika akan menjelaskan sinonim suatu hal, kata ialah yang digunakan, dan jika akan mendefinisikan pengertian rupa atau wujud, kata merupakan yang dipakai.
g)         Cara klasifikasi adalah pengembangan pragraf melalui penngelompokkan berdasarkan ciri-ciri tertentu. Kata-kata atau ungkapan yang lazim digunakan, yaitu dibagi menjadi,digolongkan menjadi, terbagi menjadi, dan mengklasifikasikan.



2.      Pengembangan paragraf menurut teknik pemaparan
a)         Naratif. Karangan narasi biasanya dihubung-hubungkan dengan cerita. Oleh sebab itu, sebuah karangan narassi atau paragraf narasi banyak ditemukan dalam novel, cerpen, atau hikayat.
b)         Deskriptif. Paragraf ini disebut juga paragraf melukiskan (lukisan). Paragraf ini melukiskan apa saja yang tertangkap pancaindra. Jadi, paragraf ini bersifat tata ruang atau tata letak. Pembicaraannya dpat berurutan dari atas ke bawah atau dari kiri ke kanan.
c)         Argumentatif. Teknik pemaparan paragraf yang satu ini memiliki sifat persuasi, yakni bersifat membujuk atau meyakinkan pembaca terhadap suatu haka tau objek. Hal atau objek yang dimaksud biasanya berupa pendpat atau opini suatu pernyataan atau pemberitaan. Namun, perbedaannya dengan paragraf persuasif, paragraf ini menggunakan perkembangan analisis yang dlaam meyakinkan pembaca dibutuhkan kehadiran fakta-fakta.
d)         Ekspositoris. Paragraf dengan teknik pemaparan yang dilakukan secara bertahap, melalui proses, atau kronologis dalam mengembangkan paragraf. Paragraf ekspositoris biasanya dipaparkan secara matematis atau berurutan terhadap suatu hal atau objek yang dikembangkan.
e)         Persuasif. Teknik pemaparan ini dilakukan dengan cara mengajak, mengimbau, atau membujuk pembaca. Tujuan mengembangkan paragraf dengan teknik persuasif ini adalah untuk memengaruhi pembaca atau pendengar agar bersedia melakukan apa yang diminta penulis atau pembicara dengan menyajikan kelebihan yang dimiliki hal atau objek yang dibicarakan.


















BAB III
PENUTUP

A.       Kesimpulan
Paragraf atau alinea adalah suatu bentuk bahasa yang biasanya merupakan hasil penggabungan beberapa kalimat. Dalam upaya menghimpun beberapa kalimat menjadi paragraph, yang perlu diperhatikan adalah kesatuan dan kepaduan. Kesatuan berarti seluruh kalimat dalam paragraf membicarakan satu gagasan(gagasan tunggal). Paragraf diperlukan untuk mengungkapkan ide yang lebih luas dari sudut pandang komposisi, pembicaraan tentang paragraf sebenarnya ssudah memasuki kawasan wacana atau karangan sebab formal yang sederhana boeh saja hanya terdiri dari satu paragraf. Jadi, tanpa kemampuan menyusun paragraf, tidak mungkin bagi seseorang mewujudkan sebuah karangan.
Paragraf yang efektif harus memenuhi dua syarat ,yaitu adanya kesatuan dan kepaduan.
Pengembangan paragraf sangat berkaitan erat dengan posisi kalimat topik karena kalimat topiklah yang mengandung inti permasalahan atau ide utama paragraf. Selain kalimat topik, pengembangan paragraf berhubungan pula dengan fungsi paragraf yang akan dikembangkan: sebagai paragraf pembuka, paragraf pengembang, atau paragraf penutup. Fungsi tersebut akan mempengaruhi pemilihan metode pengembangan karena misi ketiga paragraf tersebut dalam karangan saling berbeda.
Metode atau cara pengembangan paragraf akan bergantung pada sifat informasi yang akan disampaikan. Pengembangan paragraf dapat dilakukan melalui dua cara, yakni dengan penggunaan ungkapan dan teknik pemaparan. Paragraf dapat dikembangkan dengan menggunakan ungkapan terbagi menjadi tujuh, yakni pertentangan, perbandingan, analogi, contoh, sebab akibat, definisi dan klasifikasi. Pengembanngan paragraf dnegan teknik pemaparan terbagi menjadi lima, yaklni naratif, deskriptif, argumentatif, ekspositoris, dan persuasif. Setelah mempertimbangkan faktor tersebut barulah kita memilih salah satu cara pengembangan paragraf yang dianggap paling tepat dan efektif. Di dalam mengarang,  metode pengembangan paragraf tersebut dapat dipakai silih berganti sesuai dengan keperluan mengarang si penulisnya.
Paragraf memiliki banyak ragamnya. Untuk membedakan paragraf yang satu dari paragraf yang lain berdasarkan kelompoknya,yaitu : jenis paragraf menurut posisi kalimat topiknya, menurut sifat isinya, menurut fungsinya dalam karangan.
B.      Saran
Jadi, untuk membuat karangan, cerita, maupun informasi-informasi yang penting perlu menggunakan paragraf yang baik, dan disampaikan secara runtun yaitu dengan menggunakan kalimat-kalimat yang saling berhubungan. Sehingga apa yang ingin kita sampaikan bisa dimengerti oleh pembaca.




DAFTAR PUSTAKA

Tim Pengajar Mata Kuliah Umum Bahasa Indonesia. (2005). Bahasa Indonesia. Jakarta: UNJ.
Wahyu R.N, T. (2006). Bahsa Indonesia. Jakarta: Universitas Gunadarma.
Wiyanto, A. (2006). Terampil Menulis pAragraf. Jakarta: Grasindo.

Sunday, 14 May 2017

Menanggapi sebuah Video

Senin, 8 Mei 2017

Halloooooo!!!!
Pada pertemuan ke tujuh ini dimulai dengan penjelasan dari Pak Rahman mengenai pengarahan mengenai pengelolaan blog. Penilaian dari blog ini dilihat dari kelengkapan materi dan isi dari diary yang kita buat.

Selanjutnya Pak Rahman memberikan kami sebuah video yang beliau kirim via grup Whatsapp. Video tersebut dibuat oleh seorang pengamat politik yang berpendapat bagaimana jika Jokowi bersaing dengan Prabowo pada pemilihan Presiden (Pilpres) Tahun 2019? Apabila terjadi bagaimana dengan aksi pro dan kontra yang akan muncul akibat pertentangan yang diciptakan oleh para pendukung kedua belah pihak?.

Dari hasil menonton video tersebut, Pak Rahman menginginkan para mahasiswanya untuk memberikan argumen dari sudut pandangnya masing-masing. Lalu Pak Rahman mulai menunjuk satu persatu mahasiswanya.

Dimulai dari prodi Pendidikan kimia. Yang pertama ternyata pendapat dari saya (Rizka). Saya berkata "Menurut saya, video tersebut merupakan pertanda untuk kita agar tetap menjaga persatuan Indonesia karena yang kita lihat  dari Pilkada Gubernur (Pilgub) DKI jakarta kemarin sudah memberikan sinyal adanya perpecahan menjadi beberapa kubu. Dan pilgub kemarin seperti sebagai gambaran mengenai bagaimana pilpres yang akan datang. Dalam video tersebut menggambarkan bahwa pilpres nanti yang akan disandingkan sebagai calon presiden adalah Jokowi dan Prabowo. Dijelaskan jika misalnya Jokowi bersaing dengan Prabowo maka akan timbul konflik antara stigma PKI dan stigma Pembela Islam. Hal tersebut sudah menentang Pancasila atau tidak sesuai dengan pancasila dan yang pasti akan memunculkan perpecahan di Indonesia."

Pak Rahman pun kembali bertanya "Lalu menurut Anda sebaiknya video ini diperbanyak atau dilarang dibagikan?"

Jawaban saya adalah "Menurut saya dilarang diperbanyak pak. Karena, video ini dapat menimbulkan provokasi." Ya provokasi disini karna terlihat jelas bahwa viedo ini tidak netral dan memihak salah satu kubu.

Lalu, Pak Rahman pun menunjuk Meidy untuk memberikan pendapatnya mengenai video tersebut. Meidy pun menjawab "Menurut saya, menanggapi tanggapan dari rizka, video tersebut ada baiknya diperbanyak. Karena, video ini bagi seorang yang pemikir akan kesatuan bangsa Indonesia adalah sebagai alarm dan teguran bagi si pemikir tersebut. dimana Indonesia saat ini sudah seperti detik-detik akan perpecahan maka sebaiknya disatukan kembali seperti  jaman jaman mau kemerdekaan."
Lalu Pak Rahman menanyakan Indonesia ini lebih banyak orang yang pemikir atau hanya ikut-ikutan?. Meidy menjawab "ikut-ikutan. hmm tapi video ini ada baik sama buruknya pak"

Kemudian Pak Rahman kembali menunjuk mahasiswa yang lain. Akhirnya, Pak Rahman bertanya kepada Dimas.

Dimas memberi jawaban dengan berkata "Menurut saya, video tersebut orang-orang yang memiliki hak suaranya dalam pemilu mulai melupakan asas LUBER JURDIL. Mereka malah bangga jika mereka mendukung siapa yang akhirnya memicu perbedaan argumen yang berujung pada perpecahan antara rakyat DKI sendiri kalau dari Pilgub DKI Jakarta kemarin. Hubungannya dengan Pilpres 2019 nanti jika dilihat dari video tadi bahwa ketika Pak Jokowi yang akan distigmakan menjadi PKI dan Pak Prabowo yang distigmakan sebagai Pembela Islam maka nanti orang-orang yang masih terang-terangan bahawa dia mendukung siapa maka itu nanti akan menjadi bumbu-bumbu yang akan membuat bangsa itu semakin terpecah belah. Jadi, menurut saya bangsa Indonesia saat ini tidak banyak yang ingat dengan asas LUBER JURDIL ketika pemilu diselenggarakan. Karena, saya percaya kalau misalkan orang-orang yang memegang asas LUBER JURDIL mereka akan dapat meminimalisir konflik-konflik yang sudah terjadi. Walaupun dalam keadaan sebenarnya tidak mungkin hilang konflik-konflik tersebut. Jika saya menanggapi pertanyaan bapak tentang sebaiknya video ini diperbanyak atau tidak? Menurut saya, mungkin fokus dari video ini yaitu pada self - awareness pada masing-masing orang itu sendiri yang menyaksikannya. Karena, framing media sangat berperan penting dalam media masa. Seperti pada video tersebut menurut saya kita tidak tahu siapa yang membuat dan kepada siapa dia berpihak. Kemudai banyak sekali orang yang bisa membuat video itu. Kalaupun video tersebut benar adanya nanti untuk Pilpres 2019 maka lihatlah dari keberpihakan dia yang mendukung siapa. Karena, menurut saya sendiri si pembuat video sendiri masih abu-abu untuk memilih siapa. Memang betul dia memunjukkan keberpihakannya kepada salah satu namun dia membahas juga kekurangan dari kedua belah pihak. Saya juga bingung, kenapa dari sekarang telah dijustifikasi bahwa pada saat pilpres nanti akan ada Prabowo dengan Jokowi. Para pengkonsumsi media seperti telah diberiman arahan bahwa pada Pilpres nanti akan seperti itu."

Selanjutnya, Pak Rahman pun kembali menunjuk seorang mahasiswa dari Fakultas Ilmu Olahraga(FIO).
Dia berkata "Menurut saya, pemilu tersebut akan memicu perpecahan juga pak. Karena menurut video tersebut akan timbul fitnah-fitnah dan akan timbum pelecehan masyarakat dengan isu-isu PKI tapi masyarakat bisa jadi diperalat saja."

Karena masih ingin mendengarkan respon mahasiswanya yang lain yang telah menyaksikan video tersebut. Kemudian, ditunjuklah seorang mahasiswa FIO yang bernama Adit.
Dia berkata "Dari video tersebut telah digambarkan jelas bahwa pada Pilpres 2019 nanti ada kubu antara Jokowi dan Prabowo yang akan "bermain". Menurut saya, video ini jangan diperbanyak karena PKI ini bermain dengan cyber crime dimana adanya kejahatan-kejahatan yang dilakukan lewat media sosial yang digunakan oleh banyak orang. Sehingga hal ini dapat menimbulkan perselisihan secara terus-menerus yang mana hal ini telah teraplikasikan pada Pilgub DKI jakarta kemarin. Dan takutnya di Pilpres nanti malah pki akan semakin kuat. Jadi menurut saya  PKI akan benar-benar melakukan apa yang mereka mau dan ingin sekali mencapai tujuan mereka."

Selanjutnya Putri Muhira ingin memberikan argumennya. Dia berkata "Menurut saya, saya tersadar bahwa sebenarnya kita telah dibodohi karena sesungguhnya mereka mempunyai kepentingan-kepentjngan tersendiri. Mereka sengaja membuat dua kubu besar agar bisa diadu domba. Indonesia sendiri terkenal dengan banyak agama jadi agama lah yang dipermainkan oleh si provokator. Tentang lebih baik untuk diperbanyak atau tidaknya video itu menurut saya sebaiknya diperbanyak. Karena, video tersebut dapat membuka pikiran kita bahwa kita nantinya akan diadu domba antara PKI dan Pembela Islam."

Setelah Hira memberikan argumen, ada pula yang ingin memberikan argumen yaitu Muhammad Fachmi. Namun bahasa yang digunakannya terlalu tinggi untuk dimengerti dia pun mengaitkan masalah dalam video ini dengan bahasa-bahasa sosiologi yang menurut saya sulit untuk dimengerti. Fachmi berkata "Menurut saya pribadi dalam video tersebut ada geopolitikal yang terjadi. Jokowi bermain diantara nasionalis sekuler dengan meneofasisme. Dimana politik yang terjadi dilibatkan dengan komunitas keagamaan atau seperti ras, agama dan suku yang dipermainkan dalam politik kita. Jika saya luruskan dalam bidanb sosiologi, ada yang bermain aparatus sosiologi negara dimana gangguan-gangguan frekuensi dari pihak yang tidak terkait dengan politik dimainkan dengan seperti misalnya keagamaan. Jika saya luruskan mengenai PKI maka akan banyak pemahaman-pemahaman komunis. Dalam marsisme, komunis bersifat kolektifitas yang artinya dalam sistem ini terdapat penindasan-penindasan yang terjadi. Maka dari itu, kita harus mengkaitkan antara budaya dengan politik kita. Tentang video yang lebih baik diperbanyak atau tidaknya. Menurut saya, lebih baik diperbanyak. Karena, interpretasi masyarakat terhadap negara biasanya selalu berubah dan politik sendiri mempunyai beberapa faktor yang salah satunya berupa kepentingan pribadi karena menurut saya jika politik tidak ada kepentingan pribadi maka akan terasa kosong. Dari sinilah nantinya akan menimbulkan geopolitik yang dimainkan."

Setelah mendengar pendapat dari Fachmi Pak Rahman dan semua mahasiswa kesulitan mengerti apa maksud yang dibicarakan oleh Fachmi karena bahasa yang digunakan oleh Fachmi kurang dimengerti oleh orang-orang yang awam. Pak Rahman pun membuka kesempatan kembali untuk siapa saja memberikan pendapatnya tentang video yang telah disaksikan. Kemudian ada seorang perempuan dari Fakultas Ekonomi (FE) yang ingin memberi tanggapan. Nama perempuan tersebut adalah Afi.
Dia berkata "Menurut saya, video tersebut adalah bentuk propaganda dari politik. Dari awal video saja sudah memperlihatkan seperti memihak pada salah satu kubu yang nantinya diperkirakan akan bersaing di tahun 2019. Nah, disini memicu perpecahan tinggal menunggu tanggal mainnya akan seperti apa nantinya demo besar-besaran di Indonesia dan akan seperti apa propaganda yang dibuat oleh media-media yang berpengaruh pada daerahnya. Belum lagi ada kepentingan politik yang digunakan sebagai alat atau lahan berbisnis dalam bidang ekonomi. dari pihak perusahaan mereka mempunyai kebijakan-kebijakan yang akan menentukan keberpihakan mereka kepada pihak-pihak yang sekiranya akan menang dan akan berdampak pada pemilu seperti jalinan kerjasama. Jadi, mempengaruhi pada sisi ekonomi yang mencari keuntungan pada sisi politik."

Diskusi ini belum juga berhenti, Pak Rahman kembali menunjuk seorang mahasiswa dari fakultas Ilmu Olahraga (FIO) yang bernama hadad. Hadad menjawab dengan berkata, "Menurut saya, dari video tersebut sudah terlihat jelas bahwa Prabowo mulai bermain stigma pembela Islam. Tetapi kan video ini belum terbukti kebenarannya (hoaks). Namun jika dilihat dari video tersebut jika benar terjadi adanya persaingan antara Jokowi dengan Prabowo maka saya akan memilih pemimpin yang membela agama Islam karena saya berpegang teguh pada Al-Quran jadi isu-isu yang lain tidak berpengaruh untuk saya."

Setelah itu, Pak Rahman menunjuk mahasiswa lainnya namun ini perespon yang terakhir dan yang mendapatkan kesempatan tersebut dari FIO. Dia berkata "Menurut saya, isu tentang agama dan isu tentang PKI dulunya pernah ada namun tidak terlalu menyebar luas. Namun, sekarang kedua isu tersebut telah menyebar dari alat komunikasi atau media apapun yang sangat berpengaruh bagi masyarakat. Tentang Pilpres 2019 antara Prabowo dan Jokowi belum bisa dipertanggungjawabkan  jadi masih hoaks video tersebut. Memang ada beberapa pendapat yang sudah terbukti benar, tapi sisanya belum tentu benar"

Itulah argumen argumen dari mahasiswa yang telah mengeluarkan perbedaan pendapatnya. Selanjutnya, Pak Rahman memberikan argumen atau pendapatnya mengenai video tersebut. Pak Rahman berkata, "Saya ingin melihat dari sudut pandang Pancasila. Jika saya menilai tentang kebenaran video itu, video itu asli bukan hoaks. Saya mendapatkannya dari sebuah blog dan teman-teman saya ada yang mengirimkannya di grup WA. Hal ini saya baha karena video ini menyangkut tentang masalah yang sedang dialami oleh Indonesia saat ini.  Dari video tersebut, saya melihat bahwa sangat jelas si pembuat video berpihak kepada Jokowi. Jika dia mengatakan Jokowi adalah orang PKI, ini berarti dia akan menstigmakan Jokowi sebgaai orang PKI nantinya. Video ini menjelaskan frame tentang sebuah keinginan dia (pembuat video) dan video ini dibuat untuk provokasi atau mempropaganda. Video ini tidak berusaha untuk mendamaikan tetapi berusaha untuk memecah belah dan diskriminatif antara satu kelompok dengan kelompok lainnya. Ada beberapa kemungkinan yang bisa dianalisa tetapi beberala hal lainnya lebih mendeskripsikan provokasi tadi. Misalnya saja, di satu sisi dia mengandung hal yang unsur sara (agama) namun di sisi lain dia mengatakan bahwa akan adanya pertempuran antara PKI dan Pembela Islam yang termasuk dalam unsur ideologi. Jadi, dia menyamakan antara isu sara dengan isu ideologi. Untuk Pilgub DKI JAKARTA memang terjadi perselisihan antara isu sara yaitu Islam dengan Non-Islam dan isu suku yaitu Pribumi dengan Tionghoa. Tetapi karena hal yang paling menonjol adalah sara, maka agama yang menjadi pemicu perselisihan tersebut. Namun, saat Pilpres 2019 nanti jika masalah muncul dari segi agama kedua orang calon sama-sama beragama Islam sehingga untuk perkiraan munculnya isu sara belum tentu terjad. Tetapi kemungkinan untuk adanya perselisihan PKI dengan Pembela Islam bisa saja terjadi. Selanjutnya, saya melihat bahwa si pembuat video membawa kekesalan pada para pendukungnya. Karena, pada Pilgub DKI JAKARTA telah kalah akibat isu agama. Kemudian berbicara tentang tendensius atau provokasi yang mana dibuktikan dengan adanya gambar-gambar perempuan menunggangi kuda tetapi menggunakan seragam polisi. Dari sana muncul pertanyaan dalam benak saya "dia mau serius atau mau provokasi orang?". Kalau dalam bahasa frame, dia mencoba provokasi orang lain dan berpihak pada salah satu pihak dan tendensiusnya adalah dia memihak pada salah satu pihak. Dalam hal ini walaupun adanya kebebasan pendapat dalam negara kita, seharusnya pemerintah bisa terus menjaga dan membatasi kebebasan pendapat tersebut dan negara seharusnya berperan netral dan sebagai wasit disini bukan ikut memilih pihak yang diinginkan karena ideologi negara kita adalah liberal dan sosialis. Dimana ketika ideologi liberal (mengeluarkan pendapat) sudah terlalu berlebihan maka dibatasi seharusnya dibatasi pendapat tersebut agara tidak memicu perbedaan pendapat yang memicu peperangan sesungguhnya (sosialis) hal tersebut telah tercantum pada Pancasila. Selain itu, video ini pun condong pada memecah belah dan jika dibiarkan begitu saja maka masalah yang timbul akan seperti masalah pada Pilgub DKI JAKARTA kemarin, bahkan bisa jadi masalah ini akan lebih besar karena menyangkut Pemilihan Presiden yang memimpin seluruh daerah di Indonesia. Seorang pengamat politik mengatakan bahwa Pilgub DKI JAKARTA kemarin adalah pemilu paling brutal. Walaupun dalam kenyataannya kita seperti tidak memihak siapa pun namun dalam media sosial tanpa kita sadari kita telah "dikotak-kotakan". Komentar-komentar yang ada bersifat memecah belah satu sama lain dengan bahasa-bahasa yang tidak santun atau bahasa tidak pantas digunakan. Video ini diberikan kepada penikmat media sosial diluar sana tidak untuk dipelajari tetapi untuk memprovokasi. Karena, dia yakin sebagian besar masyarakat Indonesia adalah masyarakat yang mudah naik darah dan sebagainya. Saya ingin membahas ini untuk menghimbau kepada Anda bahwa kita sebagai intelektual bangsa Indonesia jangan mudah terpengaruh oleh hal-hal seperti itu dan jangan memberikan tanggapan-tanggapan yang mengarah kepada keberpihakan dan akhirnya menimbulkan perpecahan. Usahakanlah dalam memberi komentar yang mengandung perdamaian dan bersifat netral. Karena ketika kita ikut-ikutan berpihak kepada salah satu kubu maka tanpa kita sadari kita telah menyakiti pihak yang lainnya. Kita berharap bahwa orang-orang yang peduli dengan persatuan bangsa Indonesia harus semakin banyak dan semakin diperbanyak."

Dari beberapa argumen atau pendapat diatas saya dapat menyimpulkan bahwa di Indonesia terdapat bermacam-macam agama, beraneka suku dan budaya maupun ras bangsa. Jadi sebaiknya kita harus menanamkan rasa saling menghargai dan menghormati. Jika terdapat perbedaan pendapat maka hendaknya berusaha semaksimal mungkin untuk menciptakan perdamaian diantara mereka dan kita pun harus bersikap netral. Selain itu, bertindak bijak lah dalam menanggapi postingan atau komentar yang ada di media sosial. Jangan mudah untuk terprovokasi, jika melihat video atau foto atau lainnya yang mengandung hal-hal bersifat provokasi seperti video tadi maka hendaklah kita berpikir bijak dan rasional agar kita tidak ikut terprovokasi oleh pemikiran si provokator.

Mungkin sekian diary pada pembelajaran Pancasila kali ini. Mohon maaf bila ada kesalahan nama dari tulisan saya. Karna saya juga masih belajar disini. Sekian dan terimakasih bagi yang membacanya :))



Sunday, 7 May 2017

Pancasila Sebagai Ideologi

"Pancasila Sebagai Ideologi"

Secara umum, ideologi adalah suatu kumpulan gagasan, ide-ide dasar, keyakinan serta kepercayaan yang bersifat sistematis dengan arah dan tujuan yang hendak dicapai dalam kehidupan nasional suatu bangsa dan negara.

Istilah ideologi berasal dari kata 'idea' (inggris) yang berarti gagasan, konsep, pengertian dasar, cita-cita; dan kata 'logi' yang dalam bahasa Yunani logos artinya ilmu atau pengetahuan. Secara Harfiah, Pengertian Ideologi adalah pengetahuan tentang gagasan-gagasan, pengetahuan tentang ide-ide,science of ideas atau ajaran tentang pengertian-pengertian dasar.
Dari pengertian tersebut dapat dikatakan bahwa "ideologi adalah sebagai panduan". Maksudnya panduan untuk bertingkah laku. 
Sebagai contoh dalam kehidupan yaitu. 
1. Jika kita berpandangan bahwa kenikmatan dunia adalah segala galanya maka itulah yg akan dikejar tidak peduki bagaimana cara untuk mendapatkannya.  yang dituju adalah untuk mendapat kenikmatam dunia semata. "hedonisme"  itulah tujuannya. 
2. Jika kita berpandangan bahwa materi yang ingin dituju maka kita akan mengumpulkan materi sebanyak banyaknya. karena menurut nya materi adalah sumber kebahagiannya. Tidak peduli bagaimana cara mendapatkannya karena materi adalah tujuannya. 
3. Jika kita berpandu pada agama.  Maka kita akan mengikuti ajaran agama tersebut dan menjauhi larangan nya. 

Secara garis besar (hitam putih) ideologi terbagi dua :
1. Liberal
2. Sosialis
Saat ini untuk keduanya sudah tidak ada yang murni lagi. 

"Bagaimana sebuah negara akan dijalankan???"
Untuk menjalankan sebuah negara, maka negara tersebut membutuhkan ideologi. Dan bagaimana negara tersebut itu tergantung ideologi apa yang digunakan karna sebuah ideologi akan menentukan bagaimana negara akan dijalankan. Itulah pentingnya ideologi.
Lalu "Bagaimana jika negara tersebut tidak ada ideologi yang digunakan??". 
Ketika negara tidak memiliki ideologi maka negara tersebut akan berjalan seenaknya karna tidak adanya suatu panduan dan negara pun akan sulit untuk memberikan yang terbaik untuk negaranya (rakyat). Namun, jika otoriter tidak masalah bila tidak memiliki ideologi karna negara yang otoriter tidak memperdulikan bagaimana rakyatnya. 

Saat sidang BPUPKI, Soepomo menyatakan 3 ideologi yaitu liberal, sosial/kelas,  dan integralistik. Saat itu Indonesia memilih ideologi integralistik karna sesuai dengan negara kita. 

Penjelasan tentang paham ideologi tersebut diatas dijelaskan melalui teknik historis yaitu sejarah peradaban dunia.
1. Pada abad VI SM. Abad ini disebut sebagai masa pencerahan. Karena, pola pikir manusia tidak secara logika atau tidak masuk akal karna belum timbul pola pikir secara kritis sehingga manusia pada masa ini masih percaya kepada tahayul yang disangkutpautkan pada dewa-dewi yang mereka percayai. Pada masa ini pun manusia masih diberikan kebebasan berpendapat.

2. Pada abad VI M - XVI M. Abad ini disebut masa kegelapan. Pada masa ini disebut masa kegelapan karena yang semula orang bebas untuk berpikir apa saja jadi terhambat atau ada yang membatasi. Pada masa ini, orang tidak boleh berpikir secara bebas termasuk mengenai kebebasan berpendapat yang bertentangan dengan agama. Jika ada yang berpendapat yang bertentangan dengan agama akan diberhentikan dan wajib untuk dihukum mati. Saat itu agama yang berjaya adalah katolik. Hal ini disebabkan karena logika manusia mulai dikaitkan dengan kejadian yang mereka alami dan menambahkannya dengan tahayul terhadap kepercayaannya pada dewa-dewi mereka. Pada masa ini golongan masyarakat yang mendapat status tertinggi dalam masyarakat adalah para raja (bangsawan), para baron (sekelompok orang yang berada didekat bangsawan), dan para pemuka agama. Pada masa ini tetap ada penemuan teknologi/mesin. Dengan adanya penemuan-penemuan teknologi maka munculah sebuah kaum yang bernama kaum Borjuis yaitu kaum yang menguasai ekonomi dan industri pada saat itu. Sehingga orang-orang yang selama ini berperan dalam pertanian kemudian beralih profesi ke dunia perindustrian. Kaum borjuis ini merupakan kaum yang memperjuangkan haknya sendiri untuk mendapat hak yang sama dengan raja dan sebagainya. Dengan munculnya kaum ini status kemasyarakatan mereka naik. Mereka memperjuangkan haknya sendiri dengan mengemukakan pendapat bahwa "Kami setara dengan raja. Raja adalah manusia dan kami pun manusia. Jadi, semuanya harus sama"
Dari pendapat seperti ini muncul pendapat tentang pentingnya kesetaraan setiap individu dan konsep-konsep negara dan terjadi bentuk perjanjian diantara kaum borjuis dengan raja. 

Sebelum zaman kegelapan, konsep negara ada di tangan Tuhan. Mereka mempercayai bahwa Tuhan memberikan dan mengutus wakilnya untuk dapat memerintah sebuah negara. Wakil tersebut berciri-cirikan perkasa dan kuat seperti kaum raja dan para uskup. Sehingga setiap orang tunduk kepada para raja dan para uskup pada saat itu. Dari sini mulai bermunculan bentrok-bentrok yang dilakukan antara kaum borjuis dengan kaum raja. Akhirnya keduanya mengambil jalan keluar dengan membuat berbagai kesepakatan. Karena, kaum borjuis sudah merasa kuat maka konsep-konsep baru tentang negara pun bermunculan. Salah satunya yaitu negara muncul bukan karena utusan dari Tuhan tetapi muncul karena adanya kesepakatan diantara manusia satu dengan manusia lainnya. Jadi, adanya kontrak sosial antara manusia dengan manusia tanpa memunculkan kekacauan dan negara akan menyetarakan segalanya.

Suatu hari permasalahan pun muncul yaitu adanya perpecahan antara kaum katolik. Hal ini menyebabkan timbulnya Revolusi Perancis yang isinya tentang sebuah pendapat bahwa :
"Yang lama adalah buruk dan yang buruk haruslah dihancurkan."
Dalam konteks ini, mengandung makna bahwa orang-orang terdahulu sangat mentaati agamanya jadi orang-orang tersebut harus dihancurkan. Sehingga terjadilah perburuan liar antara manusia dengan manusia salah satunya hukuman mati besar-besaran. Peristiwa ini memunculkan individualistis sebagai konsep baru dalam ideologi negara yang harus diterima oleh banyak orang. Kesimpulannya, liberalisme muncul karena adanya prospek sejarah atau kondisi-kondisi yang ada pada jalan cerita sejarah.

Pada tahun 1800-an seorang pemikir bernama Mark melihat fenomena yang ada dalam masyarakat Eropa. Dia melihat dalam sebuah lingkungan terdapat kaum pluetar (kaum miskin), kaum borjuis, dan kaum ortodok (kaum bangsawan). Dia menyimpulkan bahwa dalam masyarakat terdapat kelas-kelas masyarakat seperti : 
- masyarakat bawah (kaum pluetar)
- masyarakat menengah (kaum borjuis)
- masyarakat atas (kaum ortodok)
Kaum ortodok merupakan jumlah masyarakat yang sedikit tetapi sangat menguasai segala sektor. Berbeda dengan jumlah dari masyarakat bawah dan menengah yang terbilang banyak tetapi tidak terlalu menguasai berbagai sektor. Hal ini membuat Mark merasakan ketidak adilan bagi masyarakat menengah dan masyarakat bawah. Akhirnya Mark membuat hipotesa tentang kesamaan yang merata seperti sama rasa, sama egaliter, kebebasan yang rata dan kesamaan lainnya. Untuk mewujudkan ini maka harus adanya revolusi antara masyarakat bawah dengan masyarakat menengah yang dapat mendirikan sebuah negara tanpa kelas yang menjamin kesetaraan. Jadi, ideologi sosialis muncul berdasarkan hipotesis mengenai negara yang diimpikan dan yang ingin dijalankan di muka bumi ini. Menurut seorang pemikir lain, konsep baru ini merupakan konsep yang harus dikembangkan dan harus dijalankan oleh sebuah negara. Kemudian, konsep ini  pun dibawa oleh dia ke Jerman dan ke Rusia namun tidak dapat dijalankan pada kedua negara tersebut. Akhirnya, sosialis dianggap sebagai hipotesis yang dapat dipakai oleh kaum komunis. Sehingga lahirlah sosial komunis yaitu sebuah negara dengan partai komunis yang menganut ideologi sosialis.


Maka timbulah pertanyaan "mengapa Indonesia tidak menganut salah satu dari kedua ideologi tersebut? (sosialis dan liberal)" 
"Jika saat itu Indonesia memilih liberal maka... "
Dalam bidang Politik : Akan banyak partai politik, kebebasan berpendapat, bersaing satu sama lain untuk menguasai kekuasaan. 
Dalam bidang Sosial : tidak banyak nya peraturan yang dibuat. 
Dalam bidang Agama : Diberikan kebebasan untuk memilih agama. 
Dalam bidang Ekonomi : Negara tidak boleh ikut berusaha atau menguasai perekonomian. Hanya individu saja.  Jika negara ikut campur akan terjadi bentrok. 

"Jika saat itu Indonesia memilih sosialis maka.. "
Dalam bidang Politik : Hanya diperbolehkan satu partai politik.  Jika lebih akan terjadi disabilitas di masyarakat. 
Dalam bidang Sosial : Banyaknya peraturan yang dibuat untuk mengontrol tingkah laku masyarakat. 
Dalam bidang Elonomi : Adanya usaha milik daerah dan negara. 

"Mengapa Indonesia tidak memilih Liberal ataupun Sosialis? "
Karena keduanya tidak sesuai dengan kultur yang ada di Indonesia. 
Penyebab Indonesia tidak memilih sosialis dan liberal yaitu:
1. Kultur budaya bangsa Indonesia yang masih melekat dengan keagamaan, kekeluargaan, dan kewajiban memeluk agama bagi masing-masing rakyatnya. Hal ini sangat berbeda dengan masyarakat Eropa yang lebih menggunakan rasio mandiri dan kebebasan. Sehingga, jika liberal diterapkan maka yang bertindak menghakimi ataupun bertindak seenaknya bukanlah negara melainkan masyarakat.
2. Dalam hal ekonomi, Indonesia terbiasa dengan adanya ketimpangan sosial. Dengan adanya ketimpangan sosial membuat hubungan antara yang mempunyai sesuatu dengan yang tidak mempunyai apa-apa akan terjalin secara alami dan tidak pernah pudar. Jika Indonesia menganut Liberal maka akan memunculkan kembali kaum borjuis dengan kaum pruetal yang semakin banyak.
3. Dalam bidang agama, Indonesia terkenal sebagai negara yang sangat melekat dengan keagamaan dan kepercayaan. Sedangkan paham liberal lebih membebaskan rakyatnya untuk tidak memeluk agama dan paham sosialis membuat agama menjadi pembentuk dua golongan masyarakat yang akan bersinggungan. Sehingga Indonesia tidak bisa dipisahkan dari agama dan tidak cocok untuk menganut kedua paham tersebut. 
4. Dalam bidang politik, sejak sebelum kemerdekaan Indonesia telah terbiasa dengan berkumpul untuk saling bertukar pendapat. Jika hal ini dihentikan seperti paham sosialis yang hanya diperbolehkan mendirikan satu partai politik, maka akan menghilangkan nilai-nilai kemanusiaan dan kebebasan dalam berpendapat.
5. Dalam bidang Ekonomi, sejak sebelum kemerdekaan bangsa Indonesia terlatih untuk mendirikan negara atas kerjasama antara rakyat dan negaranya. Jika Indonesia menganut paham sosialis, maka kerjasama antar negara dan rakyat akan hilang dan akan memicu perpecahan negara.

Akhirnya Indonesia pun menganut ideologi Integralistik yaitu ideologi yang menganut Liberal dan Sosialis namun lebih condong kepada Sosialis dalam hal tertentu. Hal ini dibuktikan dalam Undang-Undang Dasar 1945, Indonesia menganut 60% - 70% paham Sosialis dan 40% - 30% paham Liberalis. Jalan yang paling tepat adalah Indonesia harus mampu mengakomodir kedua paham tersebut.

Sekian dan semoga bermanfaat :)